Tuesday, 26 July 2016

Motivasi


Motivasi
1.       Konsep Motivasi
Istilah motivasi terkadang sering dibedakan pengertiannya dengan istilah motif. Motif adalah daya penggerak di dalam diri orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu (Winkel, 1996), sedangkan menurut Azuan (dalam Irfan, dkk, 2000) motif adalah suatu keadaan, kebutuhan, dan atau dorongan dalam diri seseorang yang
disadari/tidak disadari yang membawa kepada terjadinya suatu perilaku.
Berikut ini beberapa pengertian motivasi menurut tokoh pendidikan, yaitu :
§  Menurut Morgan, dkk (dalam Khadijah, 2009), motivasi sebagai kekuatan yang menggerakkan dan medorong terjadinya perilaku yang diarahkan pada tujuan tertentu;
§  Menurut Eggen dan Kauchak (dalam Khadijah, 2009), motivasi sebagai kekuatan yang memberi energi, menjaga kelangsungannya dan mengarahkan perilaku terhadap tujuan;
§  Menurut Mc. Donald (Hamalik, 1981), motivasi adalah perubahan energi pada dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk  mencapai tujuan;
§  Menurut Petri (dalam Khadijah, 2009), motivasi adalah kekuatan yang bertindak pada organisme yang mendorong dan mengarahkan perilakunya.
Jadi, motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi bukanlah hal yang dapat diamati, tetapi merupakan hal yang dapat disimpulkan karena sesuatu yang dapat kita saksikan. Tiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang itu didorong oleh sesuatu kekuatan dari dalam dirinya sendiri, kekuatan pendorong inilah yang kita sebut motif.
Pencapaian suatu keberhasilan dalam hidup dibutuhkan suatu motivasi dari dalam diri. Misalnya, keberhasilan dalam pembelajaran dibutuhkan suatu motivasi dari dalam diri si pembelajar itu sendiri. Oleh karena itu, motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar sehingga siswa yang bermotivasi tinggi memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar.
Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik. Motivasi adalah aspek penting dari prinsip pengajaran dan pembelajaran. Peserta didik yang tidak memiliki motivasi tidak akan berusaha keras untuk belajar, sedangkan peserta didik yang memiliki motivasi yang tinggi akan lebih antusias dan semangat untuk mengikuti proses pembelajaran.
Kerangka motivasi, secara umum dapat digambarkannya sebagai berikut :
Motivasi                   Perilaku                   Tujuan


2.       Teori-teori Motivasi
Menurut Morgan, dkk (dalam Khadijah, 2009) ada empat teori motivasi, yaitu :
1)  Teori Drive (Teori Dorongan Motivasi)
Menurut teori ini motivasi terdiri dari:
(1)  Kondisi tergerak;
(2)  Perilaku diarahkan ke tujuan yang diawali dengan kondisi tergerak;
(3)  Pencapaian tujuan secara tepat;
(4)  Reduksi kondisi tergerak dan kepuasan subjektif;
(5)  Kelegaan tatkala tujuan tercapai.

2)  Teori Insentif (Teori pull atau tarikan)
teori insentif adalah individu mengharapkan kesenangan dari pencapaian dari apa yang disebut insentif positif dan menghindari apa yang disebut insentif negatif.

3)  Teori Opponent Process
bahwa manusia dimotivasi untuk mencari tujuan yang memberi perasaan emosi senang dan menghindari tujuan yang menghasilkan ketidaksenangan.

4)  Teori Optimal Level
Menurut teori ini individu dimotivasikan untuk berperilaku dengan cara tertentu untuk menjaga level optimal pembangkitan yang menyenangkan.

Menurut Elliot, dkk (dalam Khadijah, 2009), ada empat teori motivasi yang saat ini banyak dianut, yaitu:
1)  Teori Hirarki Kebutuhan Maslow
Menurut teori ini, orang termotivasi terhadap suatu prilaku
2)  Teori Kognitif Bruner
Untuk membangkitkan motivasi Bruner adalah discovery learning. Siswa dapat melihat makna pengetahuan, keterampilan, dan sikap bila mereka menemukan semua itu sendiri.
3)  Teori Kebutuhan Berprestasi (need Achievementtheory)
Mc. Clelland (dalam eliot, 1996) menyatakan bahwa individu yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi adalah mereka yang berupaya mencari tantangan, tugas-tugas yang cukup sulit, dan ia bisa melakukan dengan baik.                   
4)  Teori Atribusi
Teori ini bersandar pada tiga asumsi dasar (petri, dalam elliot, dkk, 1996), yaitu :
(1)    Orang ingin tahu penyebab prilakunya dan prilaku orang lain, terutama prilaku yang penting bagi mereka;
(2)    Mereka tidak menetapkan penyebab perilaku mereka secara random;
(3)    Penyebab perilaku yang di tetapkan individu mempengaruhi perilaku berikutnya.

5)  Teori Operant Conditioning Skinner
Menurut Skinner, perilaku dibentuk dan dipertahankan oleh konsikuensi dari perilaku sebelumnya mempengaruhi perilaku yang sama.
6)  Teori Social Kognitif Learning
Menurut Bandura (Elliot, dalam Khadijah, 2009), orang belajar berperilaku dengan cara mencontoh. Perilaku orang lain yang dianggap berkompeten disebut model.




3.       Prinsip-prinsip Motivasi
Salah satu fungsi pengajar adalah memberikan motivasi kepada pihak yang diajarkan untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin secara efektif dan produktif. Berikut ini adalah beberapa prinsip motivasi menurut Kennet H. Hover (Surya, 2004), yaitu :
1)       Prinsip Kompetisi
2)       Prinsip Pemacu
3)       Prinsip Ganjaran dan Hukuman
4)       Kejelasan dan Kedekatan Tujuan
5)       Pemahaman Hasil
6)       Pengembangan Minat
7)       Lingkungan yang Kondusif
8)       Keteladanan

4.       Faktor-faktor Krisis Motivasi
Dewasa ini, di kalangan tenaga-tenaga pendidik banyak dibicarakan/disinyalir terjadinya “Krisis Motivasi Belajar” lebih-lebih di sekolah menengah atau kalangan remaja. Gejala tersebut ditunjukan dengan kenyataan berkurangnya perhatian siswa pada waktu pelajaran, kelalaian dalam mengerjakan pekerjaan rumah, penundaan persiapan bagi ulangan atau ujian sampai saat terakhir (belajar musiman), pandangan asal lulus cukup, dan lain-lain.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri individu yang menimbulkan daya penggerak dalam diri individu yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan yang memberikan arah kepada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki tercapai (Sardiman, 1990). Jika individu mempunyai motivasi belajar yang tinggi, maka individu tersebut akan mencapai prestasi yang baik.

5.       Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi mencapai suatu tujuan. Motivasi ini timbul karena adanya kebutuhan yang mendorong individu atau untuk melakukan tindakan yang terarah kepada suatu tujuan, sehingga dalam bentuk yang sederhana.

6.       Jenis-jenis Motivasi Belajar
Menurut Winkel (dalam Khadijah, 2009), berdasarkan sumbernya motivasi belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
1)    Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang timbul karena ada rangsangan atau bantuan dari orang lain.
2)    Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang timbul dari diri orang yang bersangkutan tanpa rangsangan atau bantuan dari orang lain.
a.   Ciri-ciri Motivasi Belajar
Menurut teori psikoanalisa Freud (Sardiman, 1990), ciri-ciri motivasi yaitu :
1)       Tekun menghadapi tugas, artinya dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai;
2)       Ulet menghadapi kesulitan, artinya tidak lekas putus asa;
3)       Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah;
4)       Lebih senang bekerja sendiri;
5)       Cepat bosan terhadap tugas rutin;
6)       Dapat mempertahankan pendapatnya jika sudah yakin akan sesuatu;
7)       Tidak mudah melepaskan hal-hal yang sudah diyakini;
8)       Suka mencari dan menyelesaikan masalah.

b.          Fungsi Motivasi Belajar
Fungsi motivasi belajar menurut Mosely (Hamalik, 2005) adalah sebagai berikut :
1)       Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan (tanpa motivasi maka tidak akan timbul suatu perbuatan seperti belajar);
2)       Motivasi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan ke pencapaian tujuan yang diinginkan;
3)       Motivasi sebagai penggerak, berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Artinya besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

c.           Hal-hal yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Menurut Lashley (dalam Khadijah, 2009), faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi adalah sebagai berikut :
1)       Faktor fisiologis, antara lain yaitu kelelahan baik kelelahan mental maupun fisik;
2)       Emosi atau yang disebut dengan kondisi yang termotivasi. Emosi meningkatkan keinginan seseorang melakukan sesuatu;
3)       Kebiasaan yang bisa menjadi motivator;
4)       Mental sets, nilai dan sikap individu;
5)       Faktor lingkungan dan insensif.

7.       Peran Motivasi Dalam Mencapai Keberhasilan Belajar
Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non interlektul. Dengan demikian, motivasi memiliki peran strategis dalam belajar, baik pada saat akan mulai belajar, saat sedang belajar, maupun pada saat berakhirnya pembelajaran. Agar perannya lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam aktivitas belajar harus dijalankan.
Motivasi merupakan salah satu unsur dalam mencapai keberhasilan yang optimal selain kondisi kesehatan secara umum, intelegensi, bakat, dan minat. Seorang anak didik bukan tidak bisa mengerjakan sesuatu, tetapi ketidakbiasaan itu disebabkan oleh kemauan yang tidak terlalu banyak terhadap pekerjaan itu. Motif yang kurang menyebabkan dorongan dan kemauan tidak kuat, sehingga hasil kerjanya tidak sesuai dengan kecakapan. Jadi, semakin besar atau kuat motivasi yang dimiliki peserta didik maka semakin besar pencapaian keberhasilan belajar yang dimilikinya.

No comments:

Post a Comment