A. Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU Sisdiknas, 2006 : 2).
Dari pengertian ini dapat kita lihat bahwa begitu pentingnya pendidikan ini bagi masyarakat yang merupakan bagian dari Negara dan sebaliknya. Sekolah merupakan lembaga yang disediakan Negara untuk mewujudkan upaya tersebut, agar tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa bisa tercapai.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, misalnya melalui pembangunan gedung sekolah baru, peningkatan daya tampung pada sekolah-sekolah yang telah ada, penambahan fasilitas belajar, pengadaan dan pengangkatan tenaga guru, pemberian beasiswa, dan lain-lain. Namun
upaya itu ternyata belum dapat mengatasi masalah pemerataan pendidikan secara tuntas. Masih banyak warga masyarakat yang belum dapat terjangkau oleh layanan pendidikan, terutama sebagian masyarakat yang memiliki berbagai macam kendala tertentu.
Pembangunan gedung sekolah baru yang dilakukan setiap tahun misalnya, belum dapat menjangkau kelompok masyarakat ekonomi lemah yang tinggal di daerah-daerah terpencil. Bagi masyarakat yang memiliki kendala ekonomi, waktu dan geografis masih sulit untuk memperoleh layanan pendidikan melalui jalur pendidikan reguler/konvensional. Padahal sebagai sesama anak bangsa, mereka memiliki hak yang sama dengan anak-anak lain yang lebih beruntung memperoleh pendidikan.
Dalam wilayah negara Indonesia yang luas dengan karakteristik geografis dan demografis yang begitu beragam, sangat sulit memberikan layanan pendidikan yang dapat menjangkau seluruh masyarakat terutama anak-anak yang memiliki berbagai kendala ekonomi, geografis dan waktu. Bahkan sekalipun di lokasi-lokasi seperti itu dibangun sekolah reguler, belum tentu kelompok anak yang memiliki kendala tersebut sempat mengikuti pendidikan karena kesibukannya bekerja membantu orang tua mencari nafkah.
Bagi kelompok anak seperti ini, pergi ke sekolah setiap hari dengan segala konsekwensinya, merupakan kegiatan yang dianggap terlalu mahal. Anak-anak tersebut berada di luar jangkauan pendidikan konvensional. Oleh karena itu, perlu adanya alternatif program pendidikan non-konvensional yaitu seperti Pendidikan terbuka dan jarak jauh salah satunya SMP Terbuka. Aplikasi teknologi pendidikan dengan segala kelebihannya dianggap mampu memberikan layanan pendidikan terhadap anak-anak yang tidak mampu dilayani dengan pendidikan konvensional.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Pemerataan Pendidikan ?
2. Bagaimanakah Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Pemerataan Pendidikan melalui Sekolah Menengah Pertama (SMP) Terbuka ?
C. Pembahasan
1. Teknologi Pendidikan dan Pemerataan Pendidikan
Teknologi pendidikan adalah teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber untuk belajar (Siregar, 2008 :302). Sementara itu, Miarso menyatakan “Teknologi Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, gagasan, prosedur, peralatan dan organisasi untuk mengatasi masalah belajar manusia (Miarso, 2011:240). Sedangkan menurut Nasution dalam bukunya ia mengartikan teknologi pendidikan adalah sebagai pegangan atau pelaksanaan pendidikan secara sistematis, menurut sistem tertentu (Nasution, 2011: 2)
Berdasarkan pendapat diatas dapat kita simpulkan Teknologi Pendidikan adalah studi dan etika praktek yang melibatkan orang, gagasan, prosedur, peralatan dan organisasi untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi dalam rangka untuk memecahkan masalah belajar manusia.
Salah satu masalah belajar yang dimiliki manusia khususnya rakyat Indonesia adalah tidak seluruh anak bangsa ini dapat mengenyam pendidikan sebagaimana yang telah dicanangkan pemerintah yaitu wajib belajar 9 tahun.
Pemerataan pendidikan di Indonesia pada dasarnya telah tercantum dalam UUD Negara Indonesia pada pasal 31 yang berbunyi :
1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang.
4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Pemerataan pendidikan menjadi tugas yang besar bagi dunia pendidikan dalam rangka untuk mewujudkan tujuan bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Miarso dalam bukunya mendefinisikan Pemerataan pendidikan sebagai:
a. Kesempatan untuk bersekolah yang merata, atau lazim disebut dengan istilah pendidikan semesta (universal education)
b. Pemerataan mutu pendidikan, atau berarti menghilangkan kesen-jangan mutu karena faktor sosial-ekonomis dan geografis
c. Pemerataan kemungkinan memperoleh pendidikan dengan memberikan perlakuan yang berbeda termasuk subsidi atau beasiswa kepada mereka yang tidak mampu, meliputi pula untuk mereka yang menyandang kelainan
d. Pemerataan hasil perolehan pendidikan, yang berarti para lulus-annya mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh penghasilan yang setaraf (Miarso, 2011:241-242).
Dari pengertian pemerataan pendidikan diatas dapat kita ketahui bahwa pemerataan pendidikan tidak terbatas hanya pada memberikan hak pendidikan seluruh warga Negara, namun pemerataan pendidikan juga terkait dengan mutu pendidikan, perlakuan yang berbeda karena perbedaan latar belakang, dan pemerataan hasil perolehan pendidikan sehingga memiliki kesempatan bersaing yang sama tanpa tebang pilih.
2. Peran Teknologi Pendidikan dalam Pemerataan Pendidikan
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang sangat besar dengan penyebaran penduduk yang tak merata. Selain itu juga tingkat pendapatan masyarakat yang tak merata. Akibat dari penyebaran penduduk yang tak merata dan tingkat ekonomi masyarakat yang rendah, berakibat pada tingkat pendidikan masyarakat dan kurang meratanya pendidikan yang diterima masyarakat.
Berbagai macam kendala dalam pendidikan yang terjadi di Indonesia dapat diselesaikan dengan pendekatan teknologi, yaitu teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan berusaha memecahkan dan atau memfasilitasi pemecahan masalah belajar pada manusia sepanjang hayat, di mana saja, dengan cara apa saja, dan oleh siapa saja. Masalah belajar dapat dialami siapa saja sepanjang hidupnya, di mana-mana, seperti di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di tempat ibadah, dan di masyarakat, serta berlangsung dengan cara apa saja dan dari apa dan siapa saja.
Bagi Indonesia, peran teknologi pendidikan sangat di butuhkan dalam pemerataan pendidikan bagi masyarakat dan peningkatan kualitas pendidikan. Kita, Indonesia, tak bisa menutup mata dari perkembangan teknologi komunikasi yang kian pesat untuk tidak bisa dimanfaatkan di dunia pendidikan. Terdapat beberapa alasan diterapkannya teknologi pendidikan, yaitu:
1. Adanya orang-orang belajar yang belum cukup memperoleh perhatian tentang kebutuhannya, kondisinya, dan tujuannya.
2. Adanya si pebelajar yang tidak cukup memperoleh pendidikan dari sumber-sumber sedekala (tradisional), dan karena itu perlu dikembangkan dan digunakan sumber-sumber baru.
3. Adanya sumber-sumber baru berupa: orang, pesan, bahan, alat, cara-cara tertentu dalam memanfaatkannya.
4. Adanya kegiatan yang bersistem dalam mengembangkan sumber-sumber belajar yang bertolak dari landasan teori tertentu dan hasil penelitian, yang kemudian dirancang, dipilih, diproduksi, disajikan, digunakan, disebarluaskan, dinilai, dan disempurnakan.
5. Adanya pengelolaan atas kegiatan belajar yang memanfaatkan berbagai sumber, kegiatan menghasilkan dan atau memilih sumber belajar, serta orang dan lembaga yang terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan tersebut. (Miarso: 2011: 599)
Penerapan program teknologi pendidikan di Indonesia berawal pada tahun 1952 dimana Jawatan Pendidikan Masyarakat menyelenggarakan siaran radio pengajaran yang diperuntukkan kepada para pelajar pejuang. Belajar jarak jauh memanfaatkan belajar mandiri dengan menggunakan modul serta teknologi komunikasi, seperti radio. Belajar jarak jauh di Indonesia adalah pada Universitas Terbuka, dimana cara belajarnya dengan menggunakan modul, tutor (dosen), dan memanfaatkan juga program pembelajaran lewat siaran radio (biasanya bekerja sama dengan RRI).
Siaran radio pendidikan merupakan program radio yang menggunakan prinsip teknologi pendidikan. Program radio pendidikan di Indonesia dimanfaatkan oleh Universitas Terbuka dalam penyampaian materi perkuliahan yang bekerja sama dengan RRI. Banyak ragam program radio yang ditujukan untuk pendidikan, misalnya untuk program penyuluhan pertanian, Keluarga Berencana. Sangat besar sekali peran radio untuk kegiatan pendidikan di Indonesia, karena bisa menjangkau sampai di daerah terpencil.
Program televisi pendidikan di Indonesia di mulai secara profesional oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada 23 Januari 1991. Program pendidikan pada TPI di tujukan pada pendidikan luar sekolah, dalam hal ini adalah SMP Terbuka atau Kejar Paket B. Program tersebut berisi tentang materi pelajaran yang sesuai dengan kurikulum. Selain program yang ditujukan untuk pendidikan sekolah, terdapat juga program pendidikan non-sekolah, seperti program penyuluhan pertanian, peternakan, ilmu pengetahuan umum. Keberlangsungan program TPI di Indonesia tak berlangung lama, karena tak adanya dukungan dari masyarakat dan kekurang jelasan pemanfaatannya. Saat ini, peran TPI diambil alih oleh TVRI dan TV- Education yang menawarkan program pendidikan untuk para pelajar sekolah. Selain ke dua televisi di atas, hampir semua siaran televisi di Indoensia menyediakan program untuk pendidikan.
Perkembangan salanjutnya dari belajar jarak jauh tidak hanya pada UT, tapi juga pada pendidikan di bawahnya. Saat ini kita kenal dengan Homeschooling, yaitu pendidikan yang kegiatan belajarnya di rumah yang diselenggarakan oleh orang tua serta guru. Sumber belajar pada belajar jarak jauh, dewasa ini tidak hanya sekedar dari siaran radio dan modul, tapi telah mengalami perkembangan lewat internet (Web).
Perkembangan teknologi internet pun tak luput dimanfaatkan untuk pendidikan. Banyak sekali Web pendidikan di temukan di internet. Peran teknologi pendidikan di internet untuk pendidikan sangat besar sekali. Salah satu contoh Web pendidikan yaitu Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) yang diselenggarakan oleh Pustekom. Jardiknas menyediakan berbagai macam pilihan program, misalnya untuk program pembelajaran SD, SMP, SMA, dan SMK, serta program lainnya. Jardiknas juga menyediakan layanan untuk pembelajaran secara on-line, dimana pebelajar melakukan kegiatan belajarnya dengan memanfaatkan internet dan test dilakukan secara on-line dimana pebelajar akan langsung memperoleh umpan balik secara langsung. Beberapa perguruan tinggi di Indoensia telah memanfaatkan internet untuk kegiatan belajar para mahasiswanya. Selain itu, guru dan dosen telah memanfaatkan internet untuk menunjang kegiatan pembelajaran di luar kelas. Dan tak ketinggalan, pihak swasta (diluar pemerintah) juga membuat web untuk pendidikan. Kemudahan dalam mengakses internet pada saat ini membuat internet menjadi salah satu teknologi komunikasi yang paling banyak diminati untuk dikembangkan dan dimanfaatkan.
Pengembangan komputer pembelajaran pada saat ini berkembang sangat pesat. Banyak ragam dan pilihan ditawarkan para pengembang program pembelajaran. Komputer pembelajaran atau CAI (Computer Assisted of Instructional) ada dalam bentuk tutorial dan media pembelajaran. Peran komputer pembelajaran di Indonesia sangat besar sekali. Kemudahan dalam pemanfaatannya membuat program komputer pembelajaran banyak dimanfaatkan di dalam sekolah maupun di luar sekolah untuk kepentingan belajar secara mandiri.
Selain yang telah diuraikan di atas, peran teknologi pendidikan di Indonesia adalah perannya di sekolah dan pelaksanaan kurikulum. Peran teknologi pendidikan di sekolah adalah pada pengelolaan dan pemanfaatan media dan sumber belajar. Beberapa sekolah yang maju telah menggunakan prinsip-prinsip teknologi pendidikan dalam mengelola dan memanfaatkan media dan sumber belajar. Peran teknologi pendidikan di kurikulum adalah terletak pada desain sistem pembelajaran dan pelaksanaan pembelajarannya. Pada desain sistem pembelajaran adalah bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Peran teknologi pendidikan pada pelaksanaan kurikulum pada saat ini yang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) adalah pada pemanfaatan media dan sumber belajar serta pada cara tingkat pencapaian ketuntasan belajar. Pada pencapaian tingkat ketuntasan belajar yang biasa disebut dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah menggunakan program pengayaan dan remedial yang menggunakan prinsip belajar berprograma dalam hal test. Yaitu, dimana para pebelajar yang belum menguasai sesuai dengan kriteria tertentu harus melakukan remidial, dan bagi siswa yang telah menguasai sesuai dengan kriteria tertentu diadakan pengayaan.
Peran teknologi pendidikan di Indonesia telah berjalan lama sekali dan telah membumi tanpa kita sadari. Peran radio untuk kepentingan pendidikan di Indonesia sangat besar hingga saat ini. Televisi membawa perubahan penyampaian program pendidikan dari audio ke audio visual. Dalam usaha pemerataan pendidikan dilaksanakan pendidikan belajar mandiri dengan belajar berprograma dan belajar jarak jauh. Perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia tak lepas dari sentuhan teknologi pendidikan dengan memanfaatkannya untuk program pendidikan. Peran teknologi pendidikan di sekolah pun sangat kuat, yaitu dalam hal pengelolaan, pemanfaatan media dan sumber belajar dan pelaksanaan kurikulum.
3. Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Pemerataan Pendidikan melalui SMP Terbuka
SMP Terbuka adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama yang dirancang khusus untuk melayani para siswa pada usia 12-17 tahun yang tidak dapat mengikuti pelajaran seperti biasa pada SMP reguler, karena alasan ekonomi, transportasi, kondisi geografis, atau kendala waktu untuk membantu orang tua bekerja. Jenis pekerjaan dalam membantu orang tua yang mereka lakukan pada umumnya sesuai dengan kadar kemampuan menurut perkembangan mereka masing-masing di antaranya adalah membantu orang tua berkebun, bekerja di sawah, ladang, warung, menjajakan koran, menyemir sepatu, yang hasilnya mereka gunakan untuk menambah keuangan keluarga atau ditabung sendiri.
Berbagai ragam kendala tersebut merupakan fenomena dan gambaran secara nyata dari kebanyakan siswa di SMP Terbuka yang sebenarnya tetap berkeinginan untuk belajar hingga meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selaras dengan Tujuan dari sistem SMP Terbuka sendiri yaitu sebagai salah satu upaya atau subsistem pendidikan pada jenjang SLTP untuk membantu lulusan SD dan MI yang karena faktor sosial, ekonomis, geografis, waktu dan lain-lain tidak dapat melanjutkan pendidikan pada jenjang SLTP.
SMP Terbuka sebagai suatu sub-sistem yang direncanakan pada 1976 adalah salah satu bentuk pendidikan terbuka, yang merupakan aplikasi teknologi pendidikan. Sistem itu dirancang untuk dapat mengatasi masalah belajar khususnya bagi mereka yang karena berbagai macam kendala tidak memperoleh kesempatan untuk belajar yang lazim, sementara mereka mempunyai potensi untuk belajar, dan masih ada sumber belajar lain yang belum dimanfaatkan (Miarso, 2011:239).
Metode pembelajaran jarak jauh merupakan salah satu metode belajar secara mandiri dan terus menerus. Metode pembelajaran jarak jauh bukan merupakan penomena baru karena kita telah mengenal Universitas Terbuka dan SMP Terbuka. SMPT merupakan salah satu metode pembelajaran jarak jauh yang pada masa lalu proses belajar hanya memberikan modul pembelajaran dan peserta didik secara mandiri belajar dan meningkatkan pengetahuan.
Sistem pendidikan terbuka dan sistem pendidikan jarak jauh dapat dijadikan alternatif untuk memberikan layanan pendidikan bagi kelompok anak yang tidak dapat dilayani dengan pendidikan konvensional. Untuk pendidikan tingkat SMP, salah satu bentuk pendidikan terbuka yang telah dilaksanakan saat ini adalah Sekolah Menengah Pertama Terbuka (SMP Terbuka). Miarso dalam bukunya, ia menyatakan bahwa SMP terbuka ditinjau dari struktural kelembagaan sekolah merupakan pendidikan kompensatorik, yaitu pengganti yang statusnya paralel dengan lembaga yang ada, bukan pelengkap (komplementer) ataupun penambah (suplementer) ( Miarso, 2011:242).
Dalam penyelenggaraan proses pembelajaran pada SMPT penggunaan media tampaknya telah menjadi keharusan. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar bahan ajar pada SMPT disampaikan melalui berbagai jenis media, baik cetak maupun non cetak. Sepanjang sejarah penyelenggaraan pendidikan pada SMPT, media telah digunakan sebagai sarana penyampai materi ajar. Adanya keterpisahan antara pengajar dengan peserta didik, maka diperlukan media sebagai sarana komunikasi yang menjebatani antara pengajar dengan peserta didik. Kehadiran media inilah yang menjadi salah satu ciri kesamaan di antara institusi penyelenggaraan pendidikan SMPT di semua tempat. Sementara yang membedakan institusi yang satu dengan yang lain adalah pilihan jenis media yang digunakannya. Variasi penggunaan media antar institusi penyelenggaraan Pendidikan SMPT sangat beragam mengingat banyaknya jenis media yang bisa dimanfaatkan mulai media yang sederhana sampai yang canggih.
Manfaat SMP Terbuka bagi orang tua dan masyarakat :
1. Kegiatan sosial ekonomi yang tidak terganggu
2. Biaya dapat ditekan serendah mungkin
3. Dihargainya anggota masyarakat yang mampu bertindak sebagai narasumber
4. Meningkatnya taraf pendidikan dasar yang diperlukan dalam menghadapi pembangunan dan perkembangan zaman, dan
5. Dikembangkannya sumber belajar baru yang berarti membuka kesempatan dimanfaatkannya sarana yang belum terpakai dan kemungkinan penambahan lapangan kerja baru(Miarso, 2011, 243).
Manfaat SMP Terbuka bagi pemerintah :
1. Dapat dipercepatnya perluasan kesempatan belajar pada jenjang SMP
2. Tidak diperlukannya biaya yang besar untuk pembangunan sekolah dan pengangkatan guru baru
3. Meningkatnya partisipasi dan kepedulian masyarakat sehingga lebih memperingan tanggung jawab pemerintah; dan
4. Berkurangnya risiko/beban penghapusan(Miarso, 2011, 243).
Dari penjelasan diatas, jelaslah bahwa peran SMPT dalam pemerataan pendidikan sangatlah penting, bisa dilihat dari tujuan dan manfaatnya dan dalam mengatasi masalah belajar khususnya bagi anak-anak yang mempunyai kendala dalam memperoleh pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU Sisdiknas, 2006 : 2).
Dari pengertian ini dapat kita lihat bahwa begitu pentingnya pendidikan ini bagi masyarakat yang merupakan bagian dari Negara dan sebaliknya. Sekolah merupakan lembaga yang disediakan Negara untuk mewujudkan upaya tersebut, agar tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa bisa tercapai.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, misalnya melalui pembangunan gedung sekolah baru, peningkatan daya tampung pada sekolah-sekolah yang telah ada, penambahan fasilitas belajar, pengadaan dan pengangkatan tenaga guru, pemberian beasiswa, dan lain-lain. Namun
upaya itu ternyata belum dapat mengatasi masalah pemerataan pendidikan secara tuntas. Masih banyak warga masyarakat yang belum dapat terjangkau oleh layanan pendidikan, terutama sebagian masyarakat yang memiliki berbagai macam kendala tertentu.
Pembangunan gedung sekolah baru yang dilakukan setiap tahun misalnya, belum dapat menjangkau kelompok masyarakat ekonomi lemah yang tinggal di daerah-daerah terpencil. Bagi masyarakat yang memiliki kendala ekonomi, waktu dan geografis masih sulit untuk memperoleh layanan pendidikan melalui jalur pendidikan reguler/konvensional. Padahal sebagai sesama anak bangsa, mereka memiliki hak yang sama dengan anak-anak lain yang lebih beruntung memperoleh pendidikan.
Dalam wilayah negara Indonesia yang luas dengan karakteristik geografis dan demografis yang begitu beragam, sangat sulit memberikan layanan pendidikan yang dapat menjangkau seluruh masyarakat terutama anak-anak yang memiliki berbagai kendala ekonomi, geografis dan waktu. Bahkan sekalipun di lokasi-lokasi seperti itu dibangun sekolah reguler, belum tentu kelompok anak yang memiliki kendala tersebut sempat mengikuti pendidikan karena kesibukannya bekerja membantu orang tua mencari nafkah.
Bagi kelompok anak seperti ini, pergi ke sekolah setiap hari dengan segala konsekwensinya, merupakan kegiatan yang dianggap terlalu mahal. Anak-anak tersebut berada di luar jangkauan pendidikan konvensional. Oleh karena itu, perlu adanya alternatif program pendidikan non-konvensional yaitu seperti Pendidikan terbuka dan jarak jauh salah satunya SMP Terbuka. Aplikasi teknologi pendidikan dengan segala kelebihannya dianggap mampu memberikan layanan pendidikan terhadap anak-anak yang tidak mampu dilayani dengan pendidikan konvensional.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Pemerataan Pendidikan ?
2. Bagaimanakah Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Pemerataan Pendidikan melalui Sekolah Menengah Pertama (SMP) Terbuka ?
C. Pembahasan
1. Teknologi Pendidikan dan Pemerataan Pendidikan
Teknologi pendidikan adalah teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber untuk belajar (Siregar, 2008 :302). Sementara itu, Miarso menyatakan “Teknologi Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, gagasan, prosedur, peralatan dan organisasi untuk mengatasi masalah belajar manusia (Miarso, 2011:240). Sedangkan menurut Nasution dalam bukunya ia mengartikan teknologi pendidikan adalah sebagai pegangan atau pelaksanaan pendidikan secara sistematis, menurut sistem tertentu (Nasution, 2011: 2)
Berdasarkan pendapat diatas dapat kita simpulkan Teknologi Pendidikan adalah studi dan etika praktek yang melibatkan orang, gagasan, prosedur, peralatan dan organisasi untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi dalam rangka untuk memecahkan masalah belajar manusia.
Salah satu masalah belajar yang dimiliki manusia khususnya rakyat Indonesia adalah tidak seluruh anak bangsa ini dapat mengenyam pendidikan sebagaimana yang telah dicanangkan pemerintah yaitu wajib belajar 9 tahun.
Pemerataan pendidikan di Indonesia pada dasarnya telah tercantum dalam UUD Negara Indonesia pada pasal 31 yang berbunyi :
1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang.
4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Pemerataan pendidikan menjadi tugas yang besar bagi dunia pendidikan dalam rangka untuk mewujudkan tujuan bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Miarso dalam bukunya mendefinisikan Pemerataan pendidikan sebagai:
a. Kesempatan untuk bersekolah yang merata, atau lazim disebut dengan istilah pendidikan semesta (universal education)
b. Pemerataan mutu pendidikan, atau berarti menghilangkan kesen-jangan mutu karena faktor sosial-ekonomis dan geografis
c. Pemerataan kemungkinan memperoleh pendidikan dengan memberikan perlakuan yang berbeda termasuk subsidi atau beasiswa kepada mereka yang tidak mampu, meliputi pula untuk mereka yang menyandang kelainan
d. Pemerataan hasil perolehan pendidikan, yang berarti para lulus-annya mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh penghasilan yang setaraf (Miarso, 2011:241-242).
Dari pengertian pemerataan pendidikan diatas dapat kita ketahui bahwa pemerataan pendidikan tidak terbatas hanya pada memberikan hak pendidikan seluruh warga Negara, namun pemerataan pendidikan juga terkait dengan mutu pendidikan, perlakuan yang berbeda karena perbedaan latar belakang, dan pemerataan hasil perolehan pendidikan sehingga memiliki kesempatan bersaing yang sama tanpa tebang pilih.
2. Peran Teknologi Pendidikan dalam Pemerataan Pendidikan
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang sangat besar dengan penyebaran penduduk yang tak merata. Selain itu juga tingkat pendapatan masyarakat yang tak merata. Akibat dari penyebaran penduduk yang tak merata dan tingkat ekonomi masyarakat yang rendah, berakibat pada tingkat pendidikan masyarakat dan kurang meratanya pendidikan yang diterima masyarakat.
Berbagai macam kendala dalam pendidikan yang terjadi di Indonesia dapat diselesaikan dengan pendekatan teknologi, yaitu teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan berusaha memecahkan dan atau memfasilitasi pemecahan masalah belajar pada manusia sepanjang hayat, di mana saja, dengan cara apa saja, dan oleh siapa saja. Masalah belajar dapat dialami siapa saja sepanjang hidupnya, di mana-mana, seperti di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di tempat ibadah, dan di masyarakat, serta berlangsung dengan cara apa saja dan dari apa dan siapa saja.
Bagi Indonesia, peran teknologi pendidikan sangat di butuhkan dalam pemerataan pendidikan bagi masyarakat dan peningkatan kualitas pendidikan. Kita, Indonesia, tak bisa menutup mata dari perkembangan teknologi komunikasi yang kian pesat untuk tidak bisa dimanfaatkan di dunia pendidikan. Terdapat beberapa alasan diterapkannya teknologi pendidikan, yaitu:
1. Adanya orang-orang belajar yang belum cukup memperoleh perhatian tentang kebutuhannya, kondisinya, dan tujuannya.
2. Adanya si pebelajar yang tidak cukup memperoleh pendidikan dari sumber-sumber sedekala (tradisional), dan karena itu perlu dikembangkan dan digunakan sumber-sumber baru.
3. Adanya sumber-sumber baru berupa: orang, pesan, bahan, alat, cara-cara tertentu dalam memanfaatkannya.
4. Adanya kegiatan yang bersistem dalam mengembangkan sumber-sumber belajar yang bertolak dari landasan teori tertentu dan hasil penelitian, yang kemudian dirancang, dipilih, diproduksi, disajikan, digunakan, disebarluaskan, dinilai, dan disempurnakan.
5. Adanya pengelolaan atas kegiatan belajar yang memanfaatkan berbagai sumber, kegiatan menghasilkan dan atau memilih sumber belajar, serta orang dan lembaga yang terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan tersebut. (Miarso: 2011: 599)
Penerapan program teknologi pendidikan di Indonesia berawal pada tahun 1952 dimana Jawatan Pendidikan Masyarakat menyelenggarakan siaran radio pengajaran yang diperuntukkan kepada para pelajar pejuang. Belajar jarak jauh memanfaatkan belajar mandiri dengan menggunakan modul serta teknologi komunikasi, seperti radio. Belajar jarak jauh di Indonesia adalah pada Universitas Terbuka, dimana cara belajarnya dengan menggunakan modul, tutor (dosen), dan memanfaatkan juga program pembelajaran lewat siaran radio (biasanya bekerja sama dengan RRI).
Siaran radio pendidikan merupakan program radio yang menggunakan prinsip teknologi pendidikan. Program radio pendidikan di Indonesia dimanfaatkan oleh Universitas Terbuka dalam penyampaian materi perkuliahan yang bekerja sama dengan RRI. Banyak ragam program radio yang ditujukan untuk pendidikan, misalnya untuk program penyuluhan pertanian, Keluarga Berencana. Sangat besar sekali peran radio untuk kegiatan pendidikan di Indonesia, karena bisa menjangkau sampai di daerah terpencil.
Program televisi pendidikan di Indonesia di mulai secara profesional oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada 23 Januari 1991. Program pendidikan pada TPI di tujukan pada pendidikan luar sekolah, dalam hal ini adalah SMP Terbuka atau Kejar Paket B. Program tersebut berisi tentang materi pelajaran yang sesuai dengan kurikulum. Selain program yang ditujukan untuk pendidikan sekolah, terdapat juga program pendidikan non-sekolah, seperti program penyuluhan pertanian, peternakan, ilmu pengetahuan umum. Keberlangsungan program TPI di Indonesia tak berlangung lama, karena tak adanya dukungan dari masyarakat dan kekurang jelasan pemanfaatannya. Saat ini, peran TPI diambil alih oleh TVRI dan TV- Education yang menawarkan program pendidikan untuk para pelajar sekolah. Selain ke dua televisi di atas, hampir semua siaran televisi di Indoensia menyediakan program untuk pendidikan.
Perkembangan salanjutnya dari belajar jarak jauh tidak hanya pada UT, tapi juga pada pendidikan di bawahnya. Saat ini kita kenal dengan Homeschooling, yaitu pendidikan yang kegiatan belajarnya di rumah yang diselenggarakan oleh orang tua serta guru. Sumber belajar pada belajar jarak jauh, dewasa ini tidak hanya sekedar dari siaran radio dan modul, tapi telah mengalami perkembangan lewat internet (Web).
Perkembangan teknologi internet pun tak luput dimanfaatkan untuk pendidikan. Banyak sekali Web pendidikan di temukan di internet. Peran teknologi pendidikan di internet untuk pendidikan sangat besar sekali. Salah satu contoh Web pendidikan yaitu Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) yang diselenggarakan oleh Pustekom. Jardiknas menyediakan berbagai macam pilihan program, misalnya untuk program pembelajaran SD, SMP, SMA, dan SMK, serta program lainnya. Jardiknas juga menyediakan layanan untuk pembelajaran secara on-line, dimana pebelajar melakukan kegiatan belajarnya dengan memanfaatkan internet dan test dilakukan secara on-line dimana pebelajar akan langsung memperoleh umpan balik secara langsung. Beberapa perguruan tinggi di Indoensia telah memanfaatkan internet untuk kegiatan belajar para mahasiswanya. Selain itu, guru dan dosen telah memanfaatkan internet untuk menunjang kegiatan pembelajaran di luar kelas. Dan tak ketinggalan, pihak swasta (diluar pemerintah) juga membuat web untuk pendidikan. Kemudahan dalam mengakses internet pada saat ini membuat internet menjadi salah satu teknologi komunikasi yang paling banyak diminati untuk dikembangkan dan dimanfaatkan.
Pengembangan komputer pembelajaran pada saat ini berkembang sangat pesat. Banyak ragam dan pilihan ditawarkan para pengembang program pembelajaran. Komputer pembelajaran atau CAI (Computer Assisted of Instructional) ada dalam bentuk tutorial dan media pembelajaran. Peran komputer pembelajaran di Indonesia sangat besar sekali. Kemudahan dalam pemanfaatannya membuat program komputer pembelajaran banyak dimanfaatkan di dalam sekolah maupun di luar sekolah untuk kepentingan belajar secara mandiri.
Selain yang telah diuraikan di atas, peran teknologi pendidikan di Indonesia adalah perannya di sekolah dan pelaksanaan kurikulum. Peran teknologi pendidikan di sekolah adalah pada pengelolaan dan pemanfaatan media dan sumber belajar. Beberapa sekolah yang maju telah menggunakan prinsip-prinsip teknologi pendidikan dalam mengelola dan memanfaatkan media dan sumber belajar. Peran teknologi pendidikan di kurikulum adalah terletak pada desain sistem pembelajaran dan pelaksanaan pembelajarannya. Pada desain sistem pembelajaran adalah bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Peran teknologi pendidikan pada pelaksanaan kurikulum pada saat ini yang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) adalah pada pemanfaatan media dan sumber belajar serta pada cara tingkat pencapaian ketuntasan belajar. Pada pencapaian tingkat ketuntasan belajar yang biasa disebut dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah menggunakan program pengayaan dan remedial yang menggunakan prinsip belajar berprograma dalam hal test. Yaitu, dimana para pebelajar yang belum menguasai sesuai dengan kriteria tertentu harus melakukan remidial, dan bagi siswa yang telah menguasai sesuai dengan kriteria tertentu diadakan pengayaan.
Peran teknologi pendidikan di Indonesia telah berjalan lama sekali dan telah membumi tanpa kita sadari. Peran radio untuk kepentingan pendidikan di Indonesia sangat besar hingga saat ini. Televisi membawa perubahan penyampaian program pendidikan dari audio ke audio visual. Dalam usaha pemerataan pendidikan dilaksanakan pendidikan belajar mandiri dengan belajar berprograma dan belajar jarak jauh. Perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia tak lepas dari sentuhan teknologi pendidikan dengan memanfaatkannya untuk program pendidikan. Peran teknologi pendidikan di sekolah pun sangat kuat, yaitu dalam hal pengelolaan, pemanfaatan media dan sumber belajar dan pelaksanaan kurikulum.
3. Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Pemerataan Pendidikan melalui SMP Terbuka
SMP Terbuka adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama yang dirancang khusus untuk melayani para siswa pada usia 12-17 tahun yang tidak dapat mengikuti pelajaran seperti biasa pada SMP reguler, karena alasan ekonomi, transportasi, kondisi geografis, atau kendala waktu untuk membantu orang tua bekerja. Jenis pekerjaan dalam membantu orang tua yang mereka lakukan pada umumnya sesuai dengan kadar kemampuan menurut perkembangan mereka masing-masing di antaranya adalah membantu orang tua berkebun, bekerja di sawah, ladang, warung, menjajakan koran, menyemir sepatu, yang hasilnya mereka gunakan untuk menambah keuangan keluarga atau ditabung sendiri.
Berbagai ragam kendala tersebut merupakan fenomena dan gambaran secara nyata dari kebanyakan siswa di SMP Terbuka yang sebenarnya tetap berkeinginan untuk belajar hingga meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selaras dengan Tujuan dari sistem SMP Terbuka sendiri yaitu sebagai salah satu upaya atau subsistem pendidikan pada jenjang SLTP untuk membantu lulusan SD dan MI yang karena faktor sosial, ekonomis, geografis, waktu dan lain-lain tidak dapat melanjutkan pendidikan pada jenjang SLTP.
SMP Terbuka sebagai suatu sub-sistem yang direncanakan pada 1976 adalah salah satu bentuk pendidikan terbuka, yang merupakan aplikasi teknologi pendidikan. Sistem itu dirancang untuk dapat mengatasi masalah belajar khususnya bagi mereka yang karena berbagai macam kendala tidak memperoleh kesempatan untuk belajar yang lazim, sementara mereka mempunyai potensi untuk belajar, dan masih ada sumber belajar lain yang belum dimanfaatkan (Miarso, 2011:239).
Metode pembelajaran jarak jauh merupakan salah satu metode belajar secara mandiri dan terus menerus. Metode pembelajaran jarak jauh bukan merupakan penomena baru karena kita telah mengenal Universitas Terbuka dan SMP Terbuka. SMPT merupakan salah satu metode pembelajaran jarak jauh yang pada masa lalu proses belajar hanya memberikan modul pembelajaran dan peserta didik secara mandiri belajar dan meningkatkan pengetahuan.
Sistem pendidikan terbuka dan sistem pendidikan jarak jauh dapat dijadikan alternatif untuk memberikan layanan pendidikan bagi kelompok anak yang tidak dapat dilayani dengan pendidikan konvensional. Untuk pendidikan tingkat SMP, salah satu bentuk pendidikan terbuka yang telah dilaksanakan saat ini adalah Sekolah Menengah Pertama Terbuka (SMP Terbuka). Miarso dalam bukunya, ia menyatakan bahwa SMP terbuka ditinjau dari struktural kelembagaan sekolah merupakan pendidikan kompensatorik, yaitu pengganti yang statusnya paralel dengan lembaga yang ada, bukan pelengkap (komplementer) ataupun penambah (suplementer) ( Miarso, 2011:242).
Dalam penyelenggaraan proses pembelajaran pada SMPT penggunaan media tampaknya telah menjadi keharusan. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar bahan ajar pada SMPT disampaikan melalui berbagai jenis media, baik cetak maupun non cetak. Sepanjang sejarah penyelenggaraan pendidikan pada SMPT, media telah digunakan sebagai sarana penyampai materi ajar. Adanya keterpisahan antara pengajar dengan peserta didik, maka diperlukan media sebagai sarana komunikasi yang menjebatani antara pengajar dengan peserta didik. Kehadiran media inilah yang menjadi salah satu ciri kesamaan di antara institusi penyelenggaraan pendidikan SMPT di semua tempat. Sementara yang membedakan institusi yang satu dengan yang lain adalah pilihan jenis media yang digunakannya. Variasi penggunaan media antar institusi penyelenggaraan Pendidikan SMPT sangat beragam mengingat banyaknya jenis media yang bisa dimanfaatkan mulai media yang sederhana sampai yang canggih.
Manfaat SMP Terbuka bagi orang tua dan masyarakat :
1. Kegiatan sosial ekonomi yang tidak terganggu
2. Biaya dapat ditekan serendah mungkin
3. Dihargainya anggota masyarakat yang mampu bertindak sebagai narasumber
4. Meningkatnya taraf pendidikan dasar yang diperlukan dalam menghadapi pembangunan dan perkembangan zaman, dan
5. Dikembangkannya sumber belajar baru yang berarti membuka kesempatan dimanfaatkannya sarana yang belum terpakai dan kemungkinan penambahan lapangan kerja baru(Miarso, 2011, 243).
Manfaat SMP Terbuka bagi pemerintah :
1. Dapat dipercepatnya perluasan kesempatan belajar pada jenjang SMP
2. Tidak diperlukannya biaya yang besar untuk pembangunan sekolah dan pengangkatan guru baru
3. Meningkatnya partisipasi dan kepedulian masyarakat sehingga lebih memperingan tanggung jawab pemerintah; dan
4. Berkurangnya risiko/beban penghapusan(Miarso, 2011, 243).
Dari penjelasan diatas, jelaslah bahwa peran SMPT dalam pemerataan pendidikan sangatlah penting, bisa dilihat dari tujuan dan manfaatnya dan dalam mengatasi masalah belajar khususnya bagi anak-anak yang mempunyai kendala dalam memperoleh pendidikan.
D. Penutup
Pemerataan pendidikan dalam artian pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan telah lama menjadi masalah yang mendapat perhatian, terutama di negara-negara sedang berkembang. Hal ini tidak terlepas dari makin tumbuhnya kesadaran bahwa pendidikan mempunyai peran penting dalam pembangunan bangsa, seiring juga dengan berkembangnya demokratisasi pendidikan dengan semboyan education for all. SMP Terbuka adalah salah satu sistem pendidikan yang merupakan aplikasi Teknologi Pendidikan dalam upaya pemeratan pendidikan telah memberikan peran yang signifikan dalam upaya pemerataan pendidikan.
Pemerataan pendidikan dalam artian pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan telah lama menjadi masalah yang mendapat perhatian, terutama di negara-negara sedang berkembang. Hal ini tidak terlepas dari makin tumbuhnya kesadaran bahwa pendidikan mempunyai peran penting dalam pembangunan bangsa, seiring juga dengan berkembangnya demokratisasi pendidikan dengan semboyan education for all. SMP Terbuka adalah salah satu sistem pendidikan yang merupakan aplikasi Teknologi Pendidikan dalam upaya pemeratan pendidikan telah memberikan peran yang signifikan dalam upaya pemerataan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Prawiradilaga, Salma, Dewi, dan Siregar, Eveline. 2008. Mozaik Teknologi Pendidikan. Prenada Media Group : Jakarta
Miarso, Yusufhadi. 2011. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Kencana Predana Media Group: Jakarta.
Seels, Barbara B. and Richey Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran; Definisi dan Kawasannya. Unit Penerbitan Universitas Negeri Jakarta: Jakarta.
Nasution. 2011. Teknologi Pendidikan. PT Bumi Aksara :Jakarta.
Undang-undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) RI No 20 tahun 2003. Penerbit : Sinar Grafika. 2006
Prawiradilaga, Salma, Dewi, dan Siregar, Eveline. 2008. Mozaik Teknologi Pendidikan. Prenada Media Group : Jakarta
Miarso, Yusufhadi. 2011. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Kencana Predana Media Group: Jakarta.
Seels, Barbara B. and Richey Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran; Definisi dan Kawasannya. Unit Penerbitan Universitas Negeri Jakarta: Jakarta.
Nasution. 2011. Teknologi Pendidikan. PT Bumi Aksara :Jakarta.
Undang-undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) RI No 20 tahun 2003. Penerbit : Sinar Grafika. 2006
No comments:
Post a Comment